Rabu, 19 Januari 2011

SHIRIN dan FARHAD


Cinta tak pernah tergoda oleh harta dan derajat. Shirin, puteri seorang
miskin tetapi kaya akan idealisme, diculik dan dibawa kepada Raja Faras,
yang seketika tergila-gila kepadanya, dan memberi hadiah besar kepada
orang yang membawanya. Namun raja itu sangat kecewa karena Shirin tidak menanggapi cintanya; idealisme gadis itu terlalu tinggi untuk dapat
dibujuk dengan kekayaan dan kebesaran Raja. Raja melakukan semua hal
untuk menyenangkannya dan agar mau menikah dengannya, tetapi setiap
upaya berakibat sebaliknya.

Ketika Shirin melihat bahwa tak ada harapan untuk lepas dari istana yang baginya hanyalah sebuah sangkar, dan kenekadan raja dan pembantu-pembantunya telah sangat menipiskan kesabarannya, ia terpaksa menerima tawaran mereka, tetapi dengan satu syarat, yaitu sebuah kanal harus dibuat sebagai monumen memorial atas peristiwa itu. Tentu saja ini merupakan siasat untuk membatalkan pernikahan, karena pembuatan kanal itu memerlukan waktu bertahun-tahun. Raja begitu tergila-gila oleh kecantikannya hingga ia lalai dalam menangkap isyarat halus itu, dan seketika memberi perintah kepada para arsitek dan insinyur untuk mulai bekerja secepatnya, dan menyelesaikannya sesegera mungkin, tidak peduli berapa biaya dan tenaga yang diperlukan. Ribuan pekerja segera terlibat dalam proyek itu, dan pekerjaan berlangsung siang-malam tanpa henti, di bawah pengawasan langsung raja itu sendiri dan pelayan-pelayannya.
Makin dekat ke penyelesaian pekerjaan, makin besar harapan sang raja, dan dengan gembira ia minta kepada Shirin untuk pergi melihat kanal itu. Dengan hati sedih, Shirin pergi ke kanal, khawatir kalau-kalau pekerjaan itu segera selesai dan ia harus menyerah kepada kehendak Raja, suatu hal yang dinilainya lebih buruk daripada kematian. Ketika berjalan melihat proses pekerjaan di mana ribuan orang bekerja siang dan malam, ia sangat terkejut melihat seorang pekerja dating kepadanya; karena terpesona oleh kecantikannya, tanpa takut ia berseru, "Hai Shirin, aku cinta padamu." "Cinta mengabaikan perbedaan derajat antara pecinta dan kekasihnya, dan mengabaikan ketinggian yang harus didaki seorang pecinta."
Suara cinta dan perkataan kebaktian seperti itulah yang dicari-cari oleh Shirin, dan belum dijumpainya sebelumnya. Shirin menjawab, "Kalau engkau mencintaiku, pecahlah gunung ini dan buatlah terowongan menembus gunung ini. Emas perlu diuji sebelum diterima." Farhad langsung berkata, "Dengan senang hati akan kulakukan, Shirin, apapun yang engkau kehendaki. Tak ada sesuatu yang terlalu berat bagi seorang pecinta untuk melakukan sesuatu demi kekasihnya."
Farhad berjalan dengan sepenuh hati, tanpa bertanya mengapa ia harus membuat terowongan, tidak berpikir seberapa banyakpekerjaan yang harus dilakukan. Ia tidak berpikir berapa lama akan selesai, tidak pula berpikir bahwa pekerjaannya akan sia-sia. Ia pergi ke gunung dan mulai memecah batu dengan kampaknya. Ia menyebut-nyebut nama Shirin setiap kali ia mengayunkan kampaknya. Setiap ayunan tangan Farhad mengukir sebuah mukjizat. Setiap ayunan, hasilnya seperti hasil kerja seratus ayunan kampak. "Daya manusia adalah kekuatan tubuhnya, tetapi daya cinta adalah keperkasaan Allah.": Tak perlu waktu lama bagi Farhad untuk menyelesaikan pekerjaannya, pekerjaan yang normalnya memerlukan waktu bertahun-tahun dan ribuan pekerja, diselesaikannya dalam beberapa hari seorang diri.
Shirin menolak Raja sejak ia melihat Farhad, dan berkata, "Ada pecinta lain yang sedang menjalani ujian, dan sebelum aku tahu hasil ujian itu, sebaiknya kita tidak menikah dulu."
Mata-mata Raja mengawasi Farhad dari kejauhan, dan mereka segera mengirim berita bahwa Farhad telah menyelesaikan pekerjaannya sebelum kanal selesai dibuat. Raja begitu gusar, berpikir bahwa Farhad mungkin akan mendapatkan cinta Shirin, dan dengan demikian Shirin bukan menjadi miliknya lagi. Setelah berunding, seorang penasihatnya berkata, "Yang Mulia, anda adalah raja, dan Farhad hanya seorang pekerja. Mana bisa langit dibandingkan dengan bumi? Aku akan pergi ke sana, dan bila Yang Mulia menghendaki, aku akan mengakhiri Fathad dalam sekejap." "Oh, jangan. Shirin akan melihat noda darah padaku, dan ini akan membuatnya menjauhiku selamanya." Seorang pembantu raja berkata, "Itu tidak sulit bagiku, Yang Mulia, mengakhiri hidup Farhad tak perlu dengan meneteskan darah." "Baiklah, kalau begitu," kata Raja.
Pelayan raja itu pergi kepada Farhad, yang hampir menyelesaikan pekerjaannya dengan bayangan Shirin yang memberi harapan. "Kebahagiaan seorang pecinta terletak di dalam kebahagiaan kekasihnya." Pelayan raja berkata, "Hai Farhad, sayang, semuanya sia-sia! Hai pesaing bulan, kekasihmu Shirin telah meninggal secara tiba-tiba." Farhad berkata dalam kepanikan, "Apa? Shirinku meninggal?" "Ya," kata pelayan itu, "Hai Farhad, sayang sekali Shirin telah tiada." Farhad mengeluh dalam, dan jatuh ke tanah. "Shirin..." itulah perkataannya yang terakhir, dan ia berlalu dari kehidupan ini.
Shirin mendengar dari orang-orang yang bersimpati kepadanya bahwa Farhad telah melakukan keajaiban dengan membuat terowongan dalam gunung sambil menyebut 'Shirin' dalam setiap ayunan kampaknya, dan telah menyelesaikan pekerjaan yang normalnya perlu waktu yang sangat lama, dalam waktu singkat. Shirin, yang hatinya telah tertambat pada Farhad, dan yang melalui jiwanya cinta Farhad terkoyak, tak memiliki lagi sisa kesabaran barang sedetik, maka ia berangkat ke gunung pada kesempatan pertama. "Dua daya yang lebih tinggi memisahkan dua hati yang bersatu." Shirin, yang bernasib baik dapat memiliki pecinta seperti Farhad, tak bernasib cukup baik untuk dapat melihatnya kembali.
Ketika Shirin menemukan jasad Farhad tergeletak di dekat karya mengagumkan yang baru saja diselesaikan baginya, ia merasa sangat tertekan dan kecewa. Mata-mata Raja datang mendekat untuk meyakinkan Shirin bahwa Farhad telah mati, berharap bahwa karena kini Farhad telah tiada, Shirin akan berketetapan hati pada Raja. Mereka berkata, "Farhad yang malang. Sayang, ia telah mati." Shirin mendengar dari tiupan angin, dari aliran air, dari batu-batu, dari pohon-pohon, suara Farhad memanggil, "Shirin, Shirin." Seluruh suasana di tempat itu menarik jiwa Shirin dengan magnetisme cinta yang diciptakan Farhad di sekelilingnya. Ia jatuh ke tanah, terpukul dan merasa
sangat kehilangan hingga hatinya tak tahan lagi, berseru, "Farhad, aku datang untuk bias bersamamu." Takdir seorang pecinta adalah kekecewaan besar di mata dunia, tetapi ia merupakan kepuasan tertinggi di mata orang-orang bijak.
Orang-orang yang bersifat menyerasikan, mencintai satu sama lain. Mungkin sifat-sifat tubuh-lah yang menyerasikan kualitas mental, kualitas jiwa. Daya tarik fisik hanya berumur pendek, daya tarik emosional berumur agak lama, dan daya tarik spiritual bertahan selamanya.
Cinta yang hanya sedikit diucapkan dapat menyalakan hati lain, cinta yang lebih banyak diucapkan akan menghantuinya, tetapi bila terlalu banyak diucapkan akan menjauhkan obyek cinta.
Hubungan menghasilkan teman, meskipun tak ada hubungan atau persahabatan duniawi yang abadi. Dengan berkumpul, duduk bersama, makan bersama, menghirup udara yang sama, hati akan mendekat. Dua batubara yang menyala, bila didekatkan akan membuat satu api. Api itu menyatukan keduanya. Bila dua tangan bergandengan, suatu arus listrik mengalir dari satu tangan ke tangan yang lain. Inilah alasan orang berjabat tangan, agar api kedua orang bertemu. Karena itu orang berkecenderungan untuk bertepuk tangan, melipat tangan dan menyilangkan kaki ketika duduk atau berbaring, karena memberi mereka kenyamanan. Inilah yang menyebabkan adanya kemiripan yang ada pada orang-orang dalam satu bangsa atau suatu ras.
Cinta cenderung menghasilkan kualitas, bahkan kemiripan, antara pecinta dan yang dicintai. Seringkali kita melihat sahabat, suami-isteri, sepasang kekasih, mursyid dan murid, pada saatnya menjadi mirip. Potret berbagai Syekh pada aliran Chistiyah semuanya seolah-olah mereka itu dibuat dalam cetakan yang sama. Seseorang yang pergi jauh dari negerinya dan hidup lama di negeri lain, menjadi akrab dengan negara itu, menyukainya, dan kadang-kadang tak ingin pulang ke negerinya sendiri, disebabkan oleh cinta yang terbentuk oleh pergaulan.
Pertemuan itu menyulut cinta, dan perpisahan membuyarkan cinta. Makin jauh obyek cinta dari jangkauan pecintanya, makin lebar bentangan yang ada bagi perluasan cinta. Karena itu cinta terhadap obyek yang tak dapat diperoleh memiliki kemungkinan untuk berkembang, sedangkan bila obyek cinta berada dalam jangkauan hal ini sering membatasi cinta. Bila perpisahan berlangsung pendek, cinta akan bertambah, tetapi bila terlalu lama, cinta itu mati. Bila pertemuan hanya sebentar, cinta akan tersulut, tetapi sulit untuk mempertahankan apinya. Bila pertemuan berlangsung lama, cinta tak banyak terpengaruh, tetapi berakar hingga tumbuh, berkembang dan berlangsung lama. Dalam ketidakhadiran kekasih, harapan merupakan minyak yang membuat api
cinta menyala. Pertemuan dan perpisahan pada gilirannya akan membuat api cinta menggelora. Terlalu lama bertemu akan mengecilkan api cinta, dan terlalu lama berpisah akan mematikan api karena kehabisan minyak.
Kita mungkin tinggal setahun di sebuah kota, dan mungkin kita mengenal dan menyukai orangorang di sana, dan mereka pun sangat menyukai kita, hingga cinta bertambah dan kita berpikir, "Andai kita dapat terus tinggal di sana!" Ketika kita pergi, selalu terasa berat untuk berpisah dari mereka. Kemudian kita pergi, kawan-kawan kita menulis surat dan kita menjawabnya, mula-mula tiap hari, kemudian tiap minggu, kemudian tiap bulan, dan frekuensinya terus berkurang hingga hanya tiap Hari Raya saja, karena kita tumbuh terpisah dan hanya sedikit urusan dengan mereka dan lebih banyak berurusan dengan orang-orang yang kini berada di sekeliling kita. Bila kita kembali ke tempat yang sama setelah lima atau enam tahun, mula-mula kita merasakan bahwa iklimnya asing bagi kita, jalan-jalan dan rumah-rumah tampak asing, dan tak ada lagi kehangatan yang dulu ada. Bila kita bodoh, kita akan menyalahkan kawan-kawan. Bila kita tahu, kita pun akan menyalahkan diri sendiri. Kebersamaan-lah yang meningkatkan cinta dan perpisahan-lah yang mengikis cinta, demikian pula dengan keterikatan kita pada tempat-tempat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar